Postingan

Menampilkan postingan dari April, 2020

Ramadan Pandemi

Bulan Ramadan tahun ini (sangat) berbeda. Pada kondisi normal, biasanya bulan suci ini diisi dengan berbagai macam tradisi yang unik, hanya ada di bulan ini. Sahur on the road, jalan-jalan setelah subuh, ngabuburit, belanja takjil, buka bersama, tarawih di masjid, et cetera . Tahun ini, semua berbeda, berterima kasihlah pada virus corona. (tentu saja ini sarkas) Biasanya, setelah pulang dari tarawih di masjid saya masih akan mendengar suara-suara dari masjid lainnya yang belum selesai salat, atau yang sehabis salat masih melanjutkan dengan tadarusan . Dilarangnya warga berkumpul atau berkerumun pun berimbas pada kebiasaan ini. Tahun ini saya salat tarawih di rumah, masjid pun hening kecuali saat azan. Semua masjid di sekitar tempat saya tinggal memang memutuskan untuk meniadakan salat berjamaah, sampai memasang baliho di depan pagar masjid. Saya sendiri tidak tahu apakah buka bersama di masjid masih diadakan, karena selama ramadan ini saya memang buka puasa di rumah. Tahun ini tida...

Mudik dan Pulang Kampung

Hari ini kita disibukkan dengan perbedaan pemaknaan dua kata yang harusnya tak jadi polemik. Perbincangan dimulai dari pernyataan Jokowi saat diwawancara oleh Najwa Shihab dalam acara Mata Najwa episode 22 April 2020. Mbak Nana menanyakan perihal maraknya warga yang pulang kampung dari Jabodetabek untuk menghindari larangan mudik yang akan berlaku. "Kalau itu bukan mudik, itu namanya pulang kampung," Saya kemudian berusaha mencari jawaban di internet. Menurut situs KBBI ( https://kbbi.kemdikbud.go.id/ ), mudik artinya: v   cak   pulang ke kampung halaman:   seminggu menjelang Lebaran sudah banyak orang yang --   Sedangkan pulang kampung berarti: kembali ke kampung halaman; mudik:   dia -- kampung setelah tidak lagi bekerja di kota Jadi secara singkat, makna mudik dan pulang kampung bisa disamakan jika mengacu pada KBBI. Lalu apa maksudnya bapak Presiden? Jawabannya bisa saja kita simpulkan dari keseluruhan jawaban Pak Jokowi, silakan ditonton sen...

Memulai

Saya yakin semua orang sepakat akan sulitnya memulai sesuatu. Kita sering dihadapkan pada kesulitan ini, meskipun sudah merasa matang memikirkan sebuah ide yang hanya menunggu dieksekusi. Saya ambil contoh yang terjadi pagi ini saja. Di malam sebelumnya, saya berniat memulai pagi dengan baik agar hari pun berjalan baik. Saya merencakan apa yang akan saya lakukan di hari besok, mulai dari salat subuh, belajar, mengerjakan sesuatu, sampai kemudian tidur lagi. Tapi semua niat itu hampir saja rusak di pagi ini. Untuk sekadar mengangkat bahu dari kasur saja butuh memupuk semangat terlebih dahulu. Alhasil karena menunggu semangat yang tidak jelas itu, rencana saya jadi molor. Salat subuh yang saya niatkan tepat waktu baru terlaksana saat matahari sudah naik. Kalau awalnya saja begitu, bagaimana dengan yang lain? Saya yakin, mau orang biasa seperti saya, atau orang sekaya Bill Gates, menemui kesulitan untuk memulai. Memulai blog ini pun sangat sulit. "Saya akan mulai besok, tun...