Interpretasi vs Fakta
"Si doi belum balas whatsapp dari tahun lalu." Interpretasi otomatis kebanyakan orang yang mengalami peristiwa seperti di atas adalah memikirkan hal-hal dan kemungkinan buruk, semisal, "Dia udah enggak sayang lagi kayaknya.", "dia post story tapi chat gak dibalas? aku salah apaa.", etc etc. Hasil dari interpretasi seperti ini adalah emosi negatif yang hanya memperburuk keadaan. Padahal, jika kita bisa memisahkan peristiwa yang terjadi dengan interpretasi/penilaian (judgement), maka emosi-emosi negatif setidaknya bisa kita hindari. "It is not things that trouble us, but our judgement about things." - Epictetus Dalam Stoicism, peristiwa hampir selalu netral. Penilaian kita yang membuatnya negatif ataupun positif, seperti kata Epictetus di atas. Dalam kasus "doi belum balas wa", setidaknya kita punya alternatif interpretasi untuk menghindari kegalauan, seperti: - "Mungkin HP-nya rusak" - "Chatnya tenggelam" - "R...