Interpretasi vs Fakta
"Si doi belum balas whatsapp dari tahun lalu."Interpretasi otomatis kebanyakan orang yang mengalami peristiwa seperti di atas adalah memikirkan hal-hal dan kemungkinan buruk, semisal, "Dia udah enggak sayang lagi kayaknya.", "dia post story tapi chat gak dibalas? aku salah apaa.", etc etc. Hasil dari interpretasi seperti ini adalah emosi negatif yang hanya memperburuk keadaan.
Padahal, jika kita bisa memisahkan peristiwa yang terjadi dengan interpretasi/penilaian (judgement), maka emosi-emosi negatif setidaknya bisa kita hindari.
"It is not things that trouble us, but our judgement about things."
- Epictetus
Dalam Stoicism, peristiwa hampir selalu netral. Penilaian kita yang membuatnya negatif ataupun positif, seperti kata Epictetus di atas. Dalam kasus "doi belum balas wa", setidaknya kita punya alternatif interpretasi untuk menghindari kegalauan, seperti:
- "Mungkin HP-nya rusak"
- "Chatnya tenggelam"
- "Rumahnya kebanjiran"
- dll, dll.
Dengan menghindari judgement negatif atas sebuah peristiwa, berarti kita juga menghindari emosi-emosi negatif.
“Nothing but what you get from first impressions. That someone has invited you, for instance. That–but not that it's done you any harm. The fact that my son is sick–that I can see. But 'that he might die of it,' no. Stick with first impressions. Don't extrapolate. And nothing can happen to you.”
Dalam Stoicism, peristiwa hampir selalu netral. Penilaian kita yang membuatnya negatif ataupun positif, seperti kata Epictetus di atas. Dalam kasus "doi belum balas wa", setidaknya kita punya alternatif interpretasi untuk menghindari kegalauan, seperti:
- "Mungkin HP-nya rusak"
- "Chatnya tenggelam"
- "Rumahnya kebanjiran"
- dll, dll.
Dengan menghindari judgement negatif atas sebuah peristiwa, berarti kita juga menghindari emosi-emosi negatif.
“Nothing but what you get from first impressions. That someone has invited you, for instance. That–but not that it's done you any harm. The fact that my son is sick–that I can see. But 'that he might die of it,' no. Stick with first impressions. Don't extrapolate. And nothing can happen to you.”
- Marcus Aurelius
Maksud dari perkataan Marcus Aurelius di atas adalah, tetaplah fokus pada impresi pertama, atau fakta objektif, dan cukupkan. Saat mendengar kabar anaknya sakit, ia tidak sampai berpikiran 'anakku bisa saja mati', karena Marcus fokus pada fakta objektif bahwa sakit anaknya tidaklah parah.
Konsep pemisahkan interpretasi (judgment) dan fakta objektif ini terlihat sederhana namun sulit untuk diterapkan. Jadi, silakan berlatih mengendalikan interpretasi agar tak galau walau chat belum dibalas doi bertahun-tahun.
Maksud dari perkataan Marcus Aurelius di atas adalah, tetaplah fokus pada impresi pertama, atau fakta objektif, dan cukupkan. Saat mendengar kabar anaknya sakit, ia tidak sampai berpikiran 'anakku bisa saja mati', karena Marcus fokus pada fakta objektif bahwa sakit anaknya tidaklah parah.
Konsep pemisahkan interpretasi (judgment) dan fakta objektif ini terlihat sederhana namun sulit untuk diterapkan. Jadi, silakan berlatih mengendalikan interpretasi agar tak galau walau chat belum dibalas doi bertahun-tahun.

Komentar
Posting Komentar