Review Singkat: Barbarians
“What do we fight for? I often asked you that. Some fight for what used to be… and others, for that which is to come. We fight for love. We fight for honor. We fight for glory. We fight for our freedom. Some fight for their children. Some fight for their gods.“
Arminius to Varus.
Bagi saya yang jarang nonton film, Barbarians jadi salah satu serial yang saya suka, karena mengangkat setting medieval, seperti serial The Last Kingdom atau Vikings. Jika The Last Kingdoms mengangkat perjuangan bangsa Anglo-Saxon di tanah Inggris mengusir bangsa Vikings, atau serial Vikings yang berfokus pada Ragnar Lothbrok, Viking paling terkenal sepanjang sejarah, maka Barbarians memilih menceritakan kita tentang perjuangan bangsa Jermanik melawat Kekaisaran Roma yang menginvasi tanah mereka.
Bedanya, Barbarians bisa dibilang lebih akurat secara sejarah dibandingkan dua nama serial yang saya sebutkan sebelumnya.
===
Gaius Julius Arminius, atau Arminius, dikenal sejarah sebagai pengkhianat Roma, dan seorang pemimpin Jermanik yang membawa kemenangan bangsa Jermanik atas 3 legiun Roma (1 Legiun = 4200 prajurit). Kisah Arminius ini yang kemudian diangkat sebagai plot utama dalam serial Netflix, Barbarians.
Arminius dilahirkan sebagai seorang Barbarian (sebutan Roma untuk orang Jermanik), dan dibesarkan sebagai orang Roma setelah Segimer, ayahnya dan Reik (kepala suku) dari Cherusci, menyerahkannya sebagai tawanan. Arminius dewasa pun menjadi salah satu petinggi yang dihormati dalam pasukan Roma, sebelum kembali membelot melawan Roma.
Setelah menjadi Reik Cherusci dan menyatukan suku-suku Jermanik, Arminius memimpin mereka melawan 3 legiun Roma pimpinan Varus dalam salah satu pertempuran yang paling berpengaruh dalam sejarah, Battle of Teutoburg Forest.
=====
Hal yang paling saya suka dari Barbarians adalah keakuratan sejarah yang diusung. Kehidupan dan budaya orang-orang Jermanik juga jadi tontonan menarik. Dibanding The Last Kingdom atau Vikings yang bisa menyediakan pertempuran skala besar per dua sampai 3 episode, Barbarians hanya menyajikan satu. Sisanya adalah konflik-konflik kecil antara orang Jermanik yang terjajah dan orang-orang Roma.
Namun, bukan berarti Barbarians tidak lebih menarik. Kita disuguhkan bagaimana Arminius melawan pergolakan dalam dirinya yang setengah Roma dan setengah Barbarian. Arminius punya tugas berat menyatukan suku-suku di tanah Jermania yang saling berpecah sementara juga berusaha membuat orang Roma tetap percaya pada loyalitasnya.
Overall, bagi yang suka dengan serial sejarah dengan banyak aksi (sebagian besar bunuh-bunuhan) di dalamnya, Barbarians adalah serial yang sangat pantas untuk ditonton untuk mengisi masa-masa prokrastinasi kamu yang tidak produktif.
Oh iya, Barbarians bisa kamu tonton di Netflix maupun di situs-situs film ilegal favorit kamu.

Komentar
Posting Komentar